Jelang Pilkada Belu 2024, Ketua PP Soroti Masalah Pengangguran dan Sosial Ekonomi

Avatar photo
Reporter : Redaksi Editor: Dhoru Vicente

Atambua, JurnalDemokrasi.com – Berbagai masalah kemasyarakatan terutama masalah pengangguran kini menjadi sorotan menarik yang diperbincangkan di kalangan masyarakat menjelang pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) pada 27 Nopember 2024 mendatang.

Salah satu tokoh muda Kabupaten Belu yang kini menjabat Ketua Pemuda Pancasila (PP) Cabang Belu- Propinsi NTT, Maksimus Tahoni dalam siaran pers yang diterima media ini, Rabu (15/05/2024), menyoroti sejumlah problem krusial kemasyarakatan yakni masalah pengangguran, upah rendah, dan kesenjangan ekonomi yang patut menjadi perhatian serius oleh pemimpin Kabupaten Belu hasil Pilkada 2024 nanti.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Maksimus menyebutkan, saat ini tahapan pilkada sedang berlangsung yang ditandai dengan masa pendaftaran bakal calon Gubernur-Wakil Gubernur dan Bupati-Wakil Bupati/Walikota-Wakil Walikota, yang suasana politiknya semakin menghangat. Di sejumlah kantor dan sekretariat partai politik yang menjadi tempat pendaftaran para calon pemimpin yang akan datang selalu dipadati para bakal calon dan pendukungnya. Spanduk dan baliho bermunculan di sudut-sudut jalan. Kondisi tersebut menjadi penanda telah bergulirnya pertarungan demokrasi lima tahunan itu dimulai.

Karena itu, lanjut Maksimus, di balik hiruk-pikuk tersebut, terselip harapan baru dari masyarakat. Harapan agar para pemimpin terpilih kelak tidak hanya menjadi aktor politik semata, tetapi benar-benar hadir sebagai pembawa solusi bagi permasalahan yang melilit kehidupan rakyat.

“Isu-isu klasik seperti pengangguran, rendahnya upah pekerja, kesenjangan sosial ekonomi dan ketimpangan pembangunan masih menjadi tantangan besar yang sedang menanti untuk dituntaskan,” tulis Maksimus dalam siaran persnya.

Dalam konteks pilkada yang tengah bergulir, Maksimus mengingatkan akan esensi sejati demokrasi dan kesejahteraan rakyat yang merupakan panggilan untuk mengembalikan substansi demokrasi yang kerap terjebak dalam permainan retorika kosong.

Baca Juga :   PEREKAT Nusantara dan TPDI Siap Membela Ketua MK Suhartoyo

Sudah tiba saatnya para calon pemimpin merespon secara serius permasalahan nyata yang dihadapi rakyat. Hanya dengan menyediakan gagasan programatik yang konkrit dan terukur, pemilu dapat benar-benar menjadi wahana untuk mewujudkan perubahan positif bagi kehidupan masyarakat.

“Inilah momen untuk membuktikan bahwa demokrasi bukan sekedar ritual, tetapi sebuah proses untuk mencapai kemakmuran dan keadilan sosial yang sesungguhnya,” pinta Maksimus.