Pengalaman Pribadi tentang PMI atau TKI

Avatar photo
Reporter : Redaksi Editor: Cyriakus Kiik

Oleh: Markus Laka, peminat migran

BERANGKAT dari keinginan untuk bersaing dalam dunia International Society of Health Care Workers dengan secuil pengalaman kerja sebagai Interpreter dan Medical Health Care Officer untuk beberapa International NGO’s seperti MSF, Save the Children dan IRC, saya mencoba untuk menjadi Putera NTT pertama yang dikirim ke Binawan untuk pelatihan ke Negeri Kincir Angin, Belanda, atas fasilitasi Bapak Ir. Paul Liyanto.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Namun, niat dan asa harus kandas karena kedatangan kami bertiga dari NTT yang terlambat untuk mengikuti kursus bahasa Belanda di Jakarta, lewat Binawan, kita tinggal di asrama, Menteng Dalam, Jakarta Pusat, tidak jauh dari Tugu Monas, tempat untuk berolahraga dan bermain sepak bola.

Astana Binawan, sangat dekat dengan Kolose Kanisius, tempat mendapatkan siraman rohani di kala hati gundah gulana menanti dan berjuang untuk bisa bekerja ke LN.

Sambil menunggu apa negara tujuan untuk meniti karier di LN seperti Kuwait, Emirat Arab, Abu Dhabi, Inggris, Kanada…aku dipercayakan untuk menjadi Dosen Bahasa Inggris Medical bagi teman-teman yang lainnya. Dosen pun melanjutkan Studi S1 Keperawatan di Binawan Institute of Health Sciences, Jakarta.

Waktu yang panjang dan penantian akan Users (Sang Penguji dari Negara Tujuan) pasti selalu ada namun penantian itu serasa sangat lama, menjenuhkan dan membuat kita serasa hilang harapan. Apa lagi, teman-teman kerja pada NGO yang sudah sangat maju dalam banyak hal.

Baca Juga :   12 Desa di Lembata Bahas Perdes Perlindungan PMI