Perangi Mafia dan Karpet Merah bagi PMI Versi Kepala BP2MI

Avatar photo
Reporter : Redaksi Editor: Cyriakus Kiik

Penulis : Hence Mandagi, Ketua Umum Serikat Pers Republik Indonesia

GAYA kepemimpinan Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia Benny Ramdhani yang sangat tegas dan lugas membela kepentingan para Pekerja Migran Indonesia, memang sering mengusik pihak- pihak yang selama ini menjadikan PMI sebagai sapi perahan

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Namun Benny Ramdhani malah begitu lantang dan lugas memberi karpet merah bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di seluruh arah kebijakan dan sikapnya. Sejak dipercayakan Presiden RI Joko Widodo menduduki jabatan Kepala BP2MI, Benny Ramdhani secara tegas menjalankan tugasnya melindungi para pahlawan devisa dengan segala konsekuensinya tanpa pandang bulu.

Tak pelak, BP2MI langsung menjadi musuh bebuyutan para mafia penyelundup Pekerja Migran Indonesia ke luar negeri lewat jalur ‘sim sala bim’ alias jalur ilegal.

Perubahan radikal di era Benny Ramdhani menjabat Kepala BP2MI memang sangat mengusik para pebisnis pengiriman PMI ilegal.

Selain itu, kebijakannya memberi fasilitas eksklusif bagi PMI di berbagai bandara Internasional di Indonesia tentunya mematikan para mafia yang selama ini menjalankan praktek pungli dan pemerasan terhadap para PMI yang pulang kampung dari Luar Negeri.

Alhasil tidak ada lagi isu PMI yang dari Luar Negeri tersentuh oknum-oknum mafia di bandara yang memeras dengan berbagai alasan dan aturan hukum.

Menariknya, baru di era ini PMI yang hendak berangkat ke luar negeri dilepas langsung Presiden RI Joko Widodo, dan sejumlah petinggi di negeri ini. PMI merasa sangat dimanusiakan dan dihargai.

Perlindungan PMI dari mulai berangkat sampai kembali ke Indonesia sudah menjadi program prioritas BP2MI sejak Ramdhani mengendalikan institusi ini. Fasilitas jaminan kesehatan atau klinik kesehatan juga kini berdiri untuk memanjakan PMI.

Baca Juga :   Gegara di-PAW, Anggota DPRD Malaka Marius Boko Gugat Gubernur NTT

BP2MI bahkan menyambut PMI di bandara bak tamu VVIP lewat jalur khusus tanpa harus mengantre dengan penumpang lain yang baru tiba di tanah air.

Mafia PMI yang selama ini bercokol menggerogoti PMI dari berangkat hingga kembali ke tanah air, sudah terputus mata rantai berkat solidnya jajaran BP2MI di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo melalui peran Benny Ramdhani.

Baru-baru ini, karpet merah bagi PMI kembali digelar Benny Ramdhani. Namun kali ini ternyata mulai ‘mengusik’ oknum pejabat Kementrian Keuangan RI. Hal itu mencuat ketika 102 kontainer barang kiriman para PMI yang terdiri dari 67 kontainer yang tertahan di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, dan 35 kontainer di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, dan membuat Benny Ramdhani meradang.

Benny langsung beraksi keras bahwa barang PMI itu ditahan Bea Cukai karena dianggap merupakan barang impor yang mengganggu dunia usaha, khususnya UMKM.

Padahal menurut Benny 102 kontainer yang tertahan itu berisi barang yang ditujukan bukan untuk diperjualbelikan lagi di dalam negeri, melainkan barang-barang yang dikirim PMI kepada keluarganya di Indonesia sebagai hadiah.

Ia menegaskan, PMI mengirim barang untuk kado keluarga tercintanya di kampung halaman, meskipun tidak semuanya barang baru. Benny pun meminta semua pihak menghargai PMI sebagai pahlawan devisa. Dia pun merasakan kesedihan dan betapa sakitnya perasaan ribuan PMI yang barang-barangnya tertahan Bea Cukai.

Benny juga mengaku dirinya pernah bertemu Jokowi pada awal Agustus lalu dan meminta adanya relaksasi pajak barang bagi PMI dan sudah menyetujui usulannya.

Usulan relaksasi pajak itu khusus bagi PMI yang namanya tercatat dalam Sistem Komputerisasi Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (Sisko P2MI) dengan pembebasan bea masuk barang sebesar 1500 US$ per tahun.