Opini  

Selamat Datang Perlawanan!

Avatar photo
Reporter : Sayful Huda Ems Editor: Cyriakus Kiik

Oleh: Saiful Huda Ems, Lawyer dan Penantang Politik Jokowi

KETIKA orang-orang seperti Fadli Zon, Fahri Hamzah dll masih beroposisi pada Pemerintahan Jokowi, yang dikritik oleh Fadli Zon, Fahri Hamzah dll itu adalah keadaan fisik Jokowi, seperti wajahnya Jokowi yang ndeso, krempeng, plonga-plongo, bodoh, pakai baju ihramnya ngawur, pakai kancing jasnya ngawur, Bhs. Inggrisnya acak kadut dll, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kinerja Jokowi sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Saat itu saya berpikir, apakah mereka-mereka itu benar-benar oposan yang berarti lawan politiknya Jokowi, ataukah mereka-mereka itu oposan pura-pura, alias mereka sengaja dikondisikan oleh Jokowi untuk bekerja dan bicara asal mangap, koar-koar saja, meskipun koar-koar keras mereka yang diliput oleh berbagai media itu sama sekali tidak ada isinya. Apa iya, politisi-politisi papan atas seperti mereka hanya bisa bersuara asal keras dan nyinyir seperti itu?.

Kondisi politik nasional yang tidak sehat seperti demikian terus terang saja membuat saya merasa tidak nyaman. Saya ketika itu merasa bahwa nampaknya ada hal yang disembunyikan oleh Rezim Jokowi bersama gerombolannya, yang ketika itu sebagian telah dia perankan seolah-olah jadi oposisi. Dan mengingat saat itu suara-suara oposisi hanyalah persoalan yang remeh temeh seperti urusan wajah ndeso dan plonga-plongo Jokowi, maka saya waktu itu masih berupaya untuk tetap berada di kubu pendukung Jokowi.

Memasuki periode kedua kepemimpinan nasional Jokowi (2019-2024) kecurigaan saya pada tipu muslihat Jokowi sedikit mulai terbukti, yakni ketika Jokowi mengangkat Prabowo sebagai Menhan dan beberapa politisi busuk seperti Fadli Zon dan Fahri Hamzah diberi anugerah Bintang Mahaputra Nararya oleh Presiden Jokowi. Dalam benak pikiran dan hati saya berkata, hemmm…sekarang semuanya menjadi jelas, Jokowi tak seperti yang kami kira sebelumnya, dia penghianat !.

Baca Juga :   Siasat Takut Kalah di MK ala Jokowi

Tak seberapa lama kemudian setelah kekecewaan saya itu semakin menumpuk, terbersitlah sebuah keinginan untuk mengganti nama Ormas yang saya dirikan dan pimpin, yakni HARIMAU JOKOWI menjadi HARIMAU PERUBAHAN, sebagai simbol kami yang tak mau lagi mendukung seorang penghianat Amanat Reformasi ’98. Tahun demi tahun berlalu, sampai kemudian tibalah di bulan menjelang PEMILU 2024. Jokowi kian hari kian terlihat kekacauan berpikir dan bertindaknya.

Lembaga-lembaga dan aparatur negara ditarik-tariknya untuk mengikuti alur pikiran politiknya yang liar, menyimpang dan penuh aroma keserakahan serta kesewang-wenangan, sampai kemudian saya berkesimpulan untuk bersikap lebih tegas lagi dengan mengambil jarak politik dengan Jokowi, yakni merubah lagi nama Ormas yang saya dirikan dan pimpin, HARIMAU PERUBAHAN menjadi HARIMAU GANJAR.

Dengan perubahan nama itu saya berharap auman dan terkaman-terkaman politik HARIMAU GANJAR pada Jokowi dapat semakin keras dan berkualitas, serta langsung menuju jantung kesombongan dan ketamakan Jokowi. Selain itu, sayapun berharap mudah-mudahan ini akan menjadi pelopor Ormas Opisisi Jokowi yang lahir dari para mantan pendukung militan Jokowi, serta menjadi pengoreksi kelompok-kelompok oposisi lainnya yang lebih dulu ada, dan yang ternyata mereka kebanyakan tak lebih hanyalah “topeng” Jokowi untuk menyukseskan pencitraannya sebagai politisi yang moderat namun ternyata penghianat !… ***

25 Februari 2024